Rabu, 07-Oct-2026 : 07-10-32
Barito Utara / 07-10-2026, Jam 06:13:46

H. Nadalsyah Koyem, Putra Terbaik Barito Utara yang Selalu Dikenang


Oleh : Reno, S.Kom., M.I.Kom. (Dosen Politeknik Muara Teweh)


Muara Teweh, Batarasatu - Kabar duka itu menjalar cepat melalui stori WhatsApp, kolom komentar media sosial, hingga obrolan di sudut-sudut warung kopi, majelis pengajian, ibu-ibu arisan hingga cafe modern.

Senin, 5 Oktober 2026, Kalimantan Tengah tertunduk duka. Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un. H. Nadalsyah, atau yang akrab dan hangat disapa Pak Koyem, telah berpulang di Rumah Sakit Siloam Jakarta setelah dua pekan berjuang melawan sakitnya. 

Kepergian Ketua DPD Partai Demokrat Kalteng sekaligus Bupati Barito Utara periode 2013–2023 ini bukan sekadar hilangnya seorang figur politik. Ini adalah kehilangan mendalam bagi sebuah daerah yang pernah menyaksikan sendiri bagaimana seorang anak kampung mengubah wajah tanah kelahirannya. Duka bukan hanya dirasakan oleh sanak keluarganya. Ini kabar duka yang membuat air mata meleleh tak terasa, ketika banyak kebaikan yang sudah diperbuat oleh Koyem semasa hidupnya. Terutama bagi orang yang mengenal dan pernah dibantu oleh tangan dinginnya H. Koyem.

Kisah hidup H. Koyem adalah cerita klasik tentang ketekunan yang jarang kita temui di panggung politik modern. Lahir di Desa Lemo pada 12 Maret 1965 dari keluarga sederhana, masa mudanya diakrabkan dengan bau oli dan keringat. Dari membantu bengkel perahu motor sang ayah, menjadi mekanik, hingga tukang tambal ban di Muara Teweh, ia meniti kehidupan dari titik paling bawah. 

Daya juang itu yang kemudian membentuk wataknya ketika sukses membangun usaha dan akhirnya melangkah ke arena politik pada 2013. Memenangi Pilkada Barito Utara dua periode berturut-turut 2013–2018 bersama Ompie Herby dan 2018–2023 bersama Sugianto Panala Putra. Koyem tidak hadir sebagai politisi yang berjarak. Ia datang sebagai sosok yang memahami betul apa artinya keterisolasian dan rasa sulit. Ribuan kepala keluarga yang merasa dampak yang luar biasa ketika kebijakan Koyem berpihak kepada mereka.

Satu dekade kepemimpinannya di Barito Utara menjadi bukti nyata. Jalan-jalan pelosok dibuka, jembatan penghubung dibangun, fasilitas kesehatan diperbaiki, dan wajah Muara Teweh bersolek menjadi daerah yang diperhitungkan di Kalteng. Bagi masyarakat Barito Utara, ia bukan sekadar bupati. Koyem adalah arsitek pembangunan banua mereka.

1 Maret 2013 saya pertama kali menginjakan kaki di Muara Teweh, ibukota Kabupaten Barito Utara. Jika dibandingkan dengan sekarang, saya turut bersaksi bahwa Koyem adalah pemimpin yang visioner. Nama boleh berganti almarhum, namun sejarah masih utuh untuk disaksikan torehan tangan H. Koyem membangun Kota Barito, julukan Muara Teweh.

Satu hal yang kerap dikenang dari sosok Koyem adalah pembawaannya yang bersahaja dan mudah dijangkau. Keterbukaannya dalam mendengar aspirasi masyarakat dari berbagai lapisan menjadikan gaya kepemimpinannya terasa personal. 

Pendekatan yang merakyat ini membuktikan bahwa kekuasaan baginya bukan alat untuk menjaga jarak, melainkan sarana untuk merajut silaturahmi dan menghadirkan solusi atas permasalahan warga.

Kepergian H. Koyem kini juga dirasakan oleh 
Ketua Umum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY). Sebelum jenazah Koyem diberangkatkam ke Banjarmasin dilanjutkan ke Muara Teweh, AHY yang ikut memandikan dan mensolatkan jenazah almarhum. AHY menyebutnya sebagai pemimpin yang sangat baik hatinya dan begitu menyayangi rakyat. "Kami (Demokrat) kehilangan kader terbaik, kebaikan bang Haji Koyem terus kami kenang," ucap AHY.

Gayung bersambut. Pengakuan jujur juga datang dari rakyat biasa. Kiriman duka dan doa dari warga seperti Cil Wi, Hano KPelangi, hingga Sholehah di media sosial memperlihatkan kerinduan yang mendalam. Mereka tidak hanya meratapi kepergian seorang pejabat, tetapi juga mengutarakannya sebagai rasa bangga pernah dipimpin oleh sosok sejujur dan sehangat H. Koyem.

Kontestasi Pilgub Kalteng 2024 lalu mungkin menjadi panggung politik terakhirnya. Meski takdir belum mengantarnya ke kursi gubernur, keberaniannya untuk terus melangkah dan mengabdi hingga akhir hayat menjadi pelajaran penting tentang arti ketulusan dalam berpolitik.

Peninggalan terbaik seorang pemimpin bukan hanya bangunan fisik, tapi inspirasi tentang kerja keras, ketulusan, dan cinta pada tanah kelahiran.

Kini, langkah kaki Sang Putra Lemo telah terhenti. Namun, jembatan, rumah sakit yang ia bangun, jalan yang ia buka, dan kebaikan yang ia tanam akan terus melintasi zaman. 

Terima kasih atas segala pengabdian dan rekam jejak pembangunan yang telah ditorehkan. Karya dan dedikasimu akan selalu menjadi bagian penting dari sejarah kemajuan daerah.

Selamat jalan pak H. Nadalsyah Koyem. Pengabdianmu telah usai dengan indah, dan jejak kebaikanmu akan terus hidup di hati masyarakat Kalimantan Tengah. Husnul khatimah, Alfaatihah.(*)

© Batara Satu. All Rights Reserved. Designed by Smart Media